Sejarah

Sejarah Gulat Jawa Tengah

Pembinaan gulat Jawa Tengah pertama kali dirintis oleh bapak Drs. Temuhadi bersama Kapt. Infentari Soenardi dan Kapt. Infentari Soemadi yang merupakan anggota Jasdam VII Diponegoro Semarang. Beliau Bertiga dikirim ke Bandung untuk mengikuti pelatihan pelatih gulat pertama kali di Indonesia tahun 1960. Pelatihan di pimpin oleh bapak Bet Ring Ong. Pada saat itu, gulat bersatu dengan tinju, sehingga terbentuklah PERTIGU atau Persatuan Tinju dan Gulat Satu Indonesia. Kemudian, setelah pelatihan beliau kembali ke Semarang dan mendirikan PERTIGU Jawa Tengah.
Bapak Drs. Temuhadi sebagai promotor penggerak gulat Jawa Tengah dibantu Kapt. Infentari Soenardi dan Kapt. Infentari Soemadi serta didukung oleh Colonel Abdul Kadir, SH. Sebagai ketua KONI JawaTengah saat itu. Beliau bertiga merekrut atlet judo dari solo untuk juga berlatih gulat.
Tahun 1961, Gulat Jawa Tengah mengikuti invitasi Gulat Indonesia di lapangan terbuka IKADA (Lapangan Banteng). Beberapa atlet yang mengikuti antara lain : Herman Gondo Waluyo (Solo), Wong Tek Sun (Solo), Cu Kiem Ce (Solo), Siem Jiet Hom ( Solo), Dasirun (Semarang), Bambang Priyambodo (Semarang).

Sejarah Gulat Jawa Tengah

Tahun 1962 PON ke – IV di Bandung, gulat pertama kali dipertandingkan di PON. Pada saat itu, Jawa Tengah mengirimkan atlet gulatnya untuk mengikuti ajang bergengsi tersebut. Tahun 1963, atlet gulat jawa tengah mengikuti GANEFO. Tahun 1969 pada PON ke – VII di Surabaya, beberapa atlet Gulat Jawa tengah memperoleh medali dan mewakili Indonesia untuk mengikuti kejuaraan internasional. Setelah Asian Games di Jakarta, Gulat mulai berkembang. Pada PON ke VIII tahun 1973 di Jakarta, Drs. Temuhadi dan Dasirun BA membawa atletnya antara lain Chaerus Salim, Sucipto, Warsito, Bambang, Subagyo, Rubianto Hadi, Darmanto (Solo), Darmadi (Solo), Suratno (Solo), Wong Tek Sun (Solo), Cu Kiem Ce (Solo), Siem Jiet Hom ( Solo), Afat (Solo), Asam (Solo), Gondo Waluyo(Solo), Arman (Solo), Sadali (Solo). PON ke IX tahun 1977 di Jakarta, Drs. Temuhadi masih menjadi pelatih di dampingi Dasirun BA sebagai official. PON ke – X tahun 1981, PON ke – XI tahun 1985, PON ke-XII tahun 1989, PON ke –XIII tahun 1993, hingga PON ke XIV tahun 1996 bertempat di Jakarta. PON ke – XV tahun 2000 bertempat di Surabaya. PON ke-XVI tahun 2004 di Palembang. PON ke- XVII tahun 2008 di Kalimantan Timur, Gulat Jawa Tengah mendapatkan satu emas, satu perak dan dua perunggu. PON ke- XVIII tahun 2012 di Riau, Gulat Jawa Tengah memperoleh satu perak yaitu Jumain di kelas 84kg Freestyle dan tiga perunggu antara lain sugiarto di kelas 54 kg Greco Roman, Agus Prasetyo di kelas 66 kg Freestyle dan Joko Waluyo di kelas 71 kg Greco Roman.
Pertama dalam sejarah gulat Jawa Tengah, di tahun 2015 terjadi pergantian atlet dan pelatih pelatda yang akan mewakili Gulat Jawa Tengah di pra kualifikasi PON. Seluruh atlet dan pelatih pelatda di degradasi dan diganti dengan atlet baru yang mana hanya sisa waktu dua bulan untuk mengikuti ajang pra kualifikasi PON. Pergantian tersebut dikarenakan adanya masalah internal di tubuh PGSI Jawa Tengah.
PGSI Jawa Tengah tetap mengirimkan atlet di ajang pra- kualifikasi PON, dan meloloskan empat atletnya yang mana dari dua atlet tersebut adalah pegulat wanita. Ini sejarah baru Gulat Jawa Tengah meloloskan atlet wanita di ajang bergengsi PON